Deni Triwahyuni, Menjadi Guru Berprestasi Dengan Menulis Buku

paalmerah.com — Ramah, murah senyum, dan enerjik. Kiranya itulah yang menggambarkan sosok dari Deni Triwahyuni, M.Pd ketika diundang diacara Mukidi Show yang diselenggarakan oleh Lesehan Sendang Roso Jambi, Rabu 19 Januari 2022. Saat diwawancarai oleh tim Mukidi Show Deni membeberkan beberapa prestasi. Nggak tanggung-tanggung, Deni menyabet beberapa penghargaan dan segudang prestasi dan menulis beberapa buku. Deni Triwahyuni lahir di Sarko, 24 Desember 1992 dan meraih gelar Magister Pendidikan pada tahun 2020 dari Universitas Jambi Magister Pendidikan Matematika. Pelatih penulisan naskah, dan aplikasi mobile SAC dan peserta virtual coordinator reaning batch 4 oleh SEAMO. Dan sekarang aktif mengajar di SD Sari Putra Kota Jambi.

Deni Triwahyuni Guru Berprestasi

Deni Trywahyuni mengisi suatu acara di Mukidi Show yang diselenggarakan oleh Lesehan Sendang Roso Jambi membeberkan pengalamannya dalam menulis dan berkarya.   Deni sejak dibangku perkuliahan mulai tertarik untuk menulis dan berkarya seni, khusunya menulis novel. Deni sudah menerbitkan beberapa buku, diantaranya adalah karya puisi dan novel. Disela-sela acara Mukidi Show sebuah program talkshow, Deni mengatakan menulis adalah salah satu merekam jejak pengalaman hidup ke dalam tulisan.

Deni adalah seorang guru yang memiliki segudang prestasi. Dalam keseharianya Deni selalu menyempatkan waktu untuk menulis dan membaca. Menurut Deni menulis dan membaca adalah dua aktivitas yang saling terkait. Deni mengajak kepada masyarakat untuk secara rutin, konsisten, dan berkelanjutan dalam berkarya. Karena denga berkarya akan mendatangkan manfaat dan pengalaman. Hal inilah yang dilakukan oleh Deni Triwahyuni dalam berkarya. 

Dalam acara Mukidi Show, Deni Triwahyuni memaparkan kisah menjadi seorang penulis buku. Banyak tantangan yang dihadapi untuk menghasilkan tulisan yang berbobot. Letih, kesedihan, air mata, bahkan harus melawan waktu dan lelah untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai-nilai. Kemanfaatan itu di antaranya dirasakan melalui bukunya yang berjudul Salah Jurusan. Karya ini dituliskan dengan menguras pikiran dan tenaga, namun tulisan ini memiliki nilai-nilai social dan psikologi. 

 Buku itu berisi rekam jejak pengalaman Deni Triwahyuni dalam memilih jurusan di bangku perkuliahan. "Inilah bukti bahwa menulis bukan hanya menjadi media menuangkan gagasan, tapi juga merekam pengalaman nyata yang dialami seorang guru, yang bisa dibagikannya kepada orang lain. Di dunia pendidikan Deni beberapa kali mendapatkan anugerah atau prestasi. Deni mengatakan bahwa aktif menulis dan menghasilkan karya terutama buku menjadi salah satu poin plus saat penilaian. Itu salah satu factor yang membuat Deni berhasil mendapatkan penghargaan atau prestasi.

Lulusan S2 Matematika dari Universitas Negeri Jambi ini, sudah mengabdikan dirinya di dunia mengajar yaiatu di SD Sari Putra Kota Jambi. Deni Triwahyuni menjatuhkan pilihannya untuk menjadi guru SD sejak ia duduk di bangku perkuliahan S1 Jurusan Matematika. Menurut Deni Triwahyuni, tantangan terbesar menjadi guru SD ialah harus berpikir keras untuk menanamkan konsep. Jangan diajarkan untuk menghafal rumus. Menurutnya, masih banyak guru SD yang di awal pembelajaran itu masih memberikan rumus. Deni Triwahyuni melakukan beberapa hal yang terlihat simpel namun berkesan bagi murid-muridnya. Sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas, Deni melakukan pengucapan yel-yel. Ya, ini adalah salah satu bentuk ice breaking yang pastinya bisa membangkitkan semangat anak-anak untuk mengikuti pembelajaran. 

Bagi Deni menjadi penulis buku tidaklah mudah. Seorang penulis buku bukanlah pekerjaan yang mudah terlebih menulis novel. Namun Deni selalu dapat melewati tantangan ini. Deni adalah penulis yang berasal dari Jambi. Siapa yang tidak kenal dengan penulis ini buku “Salah Jurusan” dan “Nestapa”. Wanita yang gemar menulis sejak dari muda ini telah menghasilkan puluhan novel dan juga menulis puisi. Deni Triwahyuni, saat kejar deadline menulis, ia menghabiskan waktu 48 jam untuk menyelesaikan tulisannya. Usai menyelesaikan buku, ia sempat sakit. Namun, karena semangatnya yang  tinggi, ia tetap aktif membaca berbagai buku, bahkan menulis beberapa karya dalam satu bulan. Salah satu yang mottonya adalah Sagu Sabu, yang artinya satu guru satu buku. Deni bersama teman-temannya tetap berkarya satu bulan satu buku. (red)